Minggu, 06 Mei 2012

Dislokasi


BAB II
TINJAUAN TEORITIS
DISLOKASI
A.     Pengertian
Dislokasi
·         Dislokasi adalah keluarnya atau bercerainya kepala sendi dan mangkuknya atau terlepasnya sebuah sendi dari tempatnya.
·         Dislokasi adalah suatu keadaan dimana terjadi perubahan dari letak permukaan tulang satu terhadap lainnya yang membentuk persendian. Bila permukaan sendi tidak berhubungan satu sama lain.
·         Dislokasi adalah kondisi terjadinya kehilangan hubungan yang normal antara kedua permukaan sendi secara komplit atau lengkap.
            Strain
·         Strain adalah merupakan tarikan otot akibat penggunaan dan peregangan yang berlebihan atau stres lokal yang berlebihan
·         Strain adalah robekan tidak kompilt dengan perdarahan ke dalam jaringan

            Sprain
·         Sprain adalah meregangnya jaringan lunak sendi dan terjadi kerusakan jaringan lunak sendi (simpai sendi, ligamen, tendon).
·         Sprain adalah cedera struktur ligamen disekitar sendi akibat gerakan menjepit atau memutar
B.      Etiologi
1.      Taruma
Mekanisme trauma yang sesuai, misalnya taruma ekstensi dan eksorotasi pada dislokasi anterior sendi bahu, ada rasa keluar bila trauma minimal. Hal ini terjadi pda dislokasi rekurens atau habitual.
2.      Kongenital
Sebagian anak dilahirkan dengan dislokasi, misalnya dislokasi pangkal paha.
3.      Patologis
Akibat destruksi tulang, misalnya tuberkulosis tulang belakang.
C.      Patofisiologis
Pada sendi permukaan- permukaan rawan sendi yang menanggung beban terpasang  dengan sangat akurat satu dengan yang lain jika terjadinya trauma, artritis berat, oesteroartritis sebelum terjadinya dislokasi didahului oleh sublikasi yang menunjukkan adanya deviasi dari hubungan normal antara tulang rawanyang satu denagn tulang rawan yang lain pada satu persandian. Jika kedua bagian ini susah tidak menyinggung satu dengan yang lainnya maka terjadilah dislokasi dengan gejala: keterbatas gerak (ekstermitas), spasme/ kram otot, penurunan nadi pada bagian distal yang cedera, pucat pada bagian terdislokasi, kebas/kesemutan.
Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen- ligamennya menjadi kendor, sehingga sendi itu akan mudah mengalami dislokasi kembali.
D.     Manifestasi Klinis 
1.      Deformitas
·         Hilangnya tonjolan tulang yang normal, misalnya deltoid yang rata pada dislokasi sendio bahu
·         Pemendekan atau pemanjangan,misalnya dislokasi anterior sendi panggul
·         Kedudukan yang khas untuk dislokasi tertentu, misalnya disloaksi posterior sendi pinggul, kedudukan panggul endorosato fleksi dan aduksi
·         Deformitas
Misalnya pda dislokasi panggul biasanya dapat dikenali dari adanya nyeri pada daerah glutea (bokong), skrotum dan paha disertai posisi ekstermitas yang kaku pada waktu adduksi, rotasi interna dan fleksi.
2.      Functio lensa
Dislokasi menimbulkan perubahan, keterbatasan atau kehilangan dari fungsi yang seharusnya
3.      Pembengkakan
Pembengkakaan ini dapat parah pada kasus trauma dan dan dapat menutupi deformitasnya
E.      Tempat- tempat Terjadinya Dislokasi dan Tindakan Pertolongannya
1.      Dislokasi sendi rahang
Dislokasi sendi rahang terjadi karena:
·         Mengucap atau tertawa terlalu lebar
·         Terkena pukulan kertas ketika rahang sedang terbuka
Tindakan pertolongan:
Dislokasi sendi rahang biasanya sangat mudah memperbaikinya. Cukup dengan mempergunakan ibu jari yang ditekan dibawah rahang tersebut. Tetapi jangan lupa membalut ibu jari sebelumnya, sebab setelah di perbaiki rahang itu akan mengatup dengan cepat dan keras sehingga ibu jari kita akan tergigit dibuatnya.
2.      Dislokai sendi jari
Sendi jari mudah mengalami disloksi bila tidak ditolong dengan segera sendi tersebut akan akan menjadi kaku. Sendi jari dapat mengalami dislokasi keaerah telapak atau punggung tangan.
Tindakan pertolongan:
      Tarik ujung jari yang cedera dengan tarikan yang cukup kuat tetapi tidak disentakkan. Sambil menarik, sendi yang terpeleset ditekan dengan ibu jari dan telunjuk.
3.      Dislokasi sendi bahu
Ada beberapa kemungkinan arah dislokasi pada sendi bahu yang cedera. Tetapi yang sering terjadi adalah dislokasi kedepan yaitu kepala tulang lengan atas terpeleset kearah dada.
Tanda lain pada dislokasi sendi bahu adalah lengan menjadi kaku dan siku agak terdorong menjauhi sumbu tubuh. Ujung tulan bahu akan tampak lebih menonjol keluar sedang dibagian depan tulang bahu nampak ada cekungan ke dalam.
Tindakan pertolonagan:
      Dislokasai sendi bahu dapat diperbaiki dengan cara sebagai berikut:
 Ketiak yang cedera, ditekan dengan telapak kaki  sementara itu lengan penderita ditarik sesuai arah kedudukannya. Tariakan itu harus dilakukan dengan pelan semakin lama semakin kuat. Hal ini untuk menghindarkan rasa nyeri yang mendadak  dan merusak jaringan- jaringan disekitar sendi. Setelah ditarik dengan kekuatan yang tetap selama beberapa menit, dengan hati-hati lengan atas di putar keluar (arah menjauhi tubuh). Hal ini sebaiknya dilakukan dengan siku terlipat.
Kemudian dengan hati- hati merapatkan siku ke tubuh dan akhirnya lipatlah lengan bawah merapat kedada,lengan digantung dengan mitella ke leher untuk menjaga agar sendi bahu tidak bergerak- gerak.
4.      Dislokasi sendi panggul
Dislokasi sendi panggul sering terjadi pada kecelakaan kendara bermotor, akibat lutut membentur dashboard, paha terdorong kebelakang dan terlepas dari sendinya.
Tanda- tandanya: lutut terputar kedalam dan paha terkunci mendekati garis tengah tubuh.
F.       Komplikasi
1.      Nekrosis aseptik (pada panggul)
Kalau panggul yang mengalami dislokasi tidak direduksi dalam 12 jam atau paling lama 24 jam sesudah cedera, maka kemungkinan penderita tersebut akan menglami nekrosis aseptik.
2.      Kecacatan
Penderita yang mengalami dislokai menjadi cacat karena atau program penatalaksanaannya.
3.      Osteomielitis
Infeksi jaringan tubuh, bakterinya (staphylocous aureus, sreptococus) berpindah melalui aliran darah menuju metafisis tulang.
G.     Tindakan
1.      Dorong manipulasi cedera hati-hati, permukaan sendi diluruskan kembali. Tindakan ini sering memerlukan anastesi umum untuk melemaskan otot-ototnya.
2.      Pembedahan terbuka mungkin diprlukan, khususnya kalau jaringan lunak terjepit diantara permukaan sendi
3.      Persendian tersebut disangga dengan pembebatan, dengan pemasangan gips
4.      Fisioterapi harus segera dimulai untuk mempertahankan fungsi ototdan latihan yang aktif dapat diawali secara dini untuk mendorong gerakan sendi yang penuh, khusunya pada sendi bahu.
(Ilmu Bedah untuk Perawat, hal 235)


Asuhan Keperawatan
A.     Data Dasar Pengkajian Pasien
1.      Aktivitas / Istirahat
Tanda : keterbatasan fungsi pada bagian yang terkena (nyeri waktu beraktivitas)
2.      Sirkulasi
Tanda :
·         Hipertensi atau hipotensi (kadang- kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ ansietas)
·         Takikardi (respon sters)
·         Penurunan / tidak ada nadi pada bagian distal yang cedera (pengisian kapiler lambat dan pucat pada bagian terkena
·         Pembengkokan jaringan
3.      Neurosensori
Gejala :
·         Hilangnya gerakan/ sensasi spasme otot
·         Kebas/ kesemuatan (parestesis)
Tanda:
·         Deformitas lokal: spasme otot, krepitasi, terlihat kelemahan atau hilang fungsi
·         Agitasi (nyeri atau ansietas atau teruma)
4.      Nyeri atau kenyamanan
Gejala:
·         Nyeri berat tiba- tiba pada saat cedera (akan berkurang pada imobilitas spasme atau kram otot (setelah imobilitas)
5.      Keamanan
Tanda:
·         Laserasi kulit, avulsasi jaringan, perdarahan, perubahan warna kulit
Kebas atau kesemutan (parestasis)Tanda : keterbatasan fungsi pada bagian yang terkena (nyeri waktu beraktivitas)
6.      Sirkulasi
Tanda :
·         Hipertensi atau hipotensi (kadang- kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ ansietas)
·         Takikardi (respon sters)
·         Penurunan / tidak ada nadi pada bagian distal yang cedera (pengisian kapiler lambat dan pucat pada bagian terkena
B.      Diagnosis
1.      Anamnesis
a.      Ada trauma
b.      Mekanisme trauma yang seuai
Misalnya: pada trauma ekstensi dan eksorotasi pada dislokasi anterior sendi bahu
c.       Ada rasa sendi keluar
d.      Bila trauma minimal, hal ini dapat terjadi pada dislokasi rekurens atau habitual
2.      Pemeriksaan Klinis
a.      Deformitas
·         Hilangnya tonjolan tulang yang normal
·         Pemendekan atau pemanjangan
·         Kedudukan yang khas pada dislokasi tertentu
b.      Nyeri
c.       Functio lensa

C.      Pemeriksaan Penunjang
·         Pemeriksaan radiologi untuk memastikan arah dislokasi dan apakah disertai fraktur
·         Pemeriksaan rongent untuk menentukan lokasi dan luasnya dislokasi
·         Skan tulang,tomogram, skan C/MRI untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak
·         Hitung darah lengkap untuk menentukan adanya peningkatan atau penurunan Ht.
D.     Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri b/d spasme otot
Dibuktikan oleh:
·         Keluhan nyeri
·         Distraksi (fokus pada diri sendiri atau fokus menyempit dan wajah menunjukkan nyeri)
·         Perilaku berhat- hati,untuk melindung perubahan tonus otot.
Tujuan:
·         Nyeri hilang atau berkurang
·         Menunjukkan tindakan santai: mampu berpartisipasi dalam aktivitas/ istirahat
·         Menunjukkan keterampilan relaksasi dan terpeutik sesuai indikasi untuk situasi individual
Intervensi Keperawatan:
1)      Evaluasi keluhan nyeri atau ketidaknyamanan, perhatiakan lokasi karakteristik temasuk intensitas (skala 0-10). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal (perbahan pada tanda vital dan emosi/ prilaku)
R: mempengaruhi pilihan / pengawasan keefektifan intervensi
2)      Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera
R: membantu menghilangkan ansietas
3)      Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit (tirah baring)
R: menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang/  tegangan jaringan yang cedera
4)      Tinggikan dan dukung ekstermitas yang terkena
R: meningkataka aliran balik vena dan menurunkan nyeri
5)      Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif/ aktif
R: mempertahankan kekuatan dan mobilitas otot yang sakit
6)      Berikan alternatif tindakan kenyamanan, seperti : pijatan dan perubahan posisi
R: meningkatkan sirkulasi umum, menurunkan area tekanan lokal dan kelelahan otot
7)      Dorong menggunakan teknik manajemen stres
R: meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen stres
8)      Lakukan kolaborasi dengan dokter
Berikan obat sesuai indikasi: narkotik dan analgesik non narkotik NSAID
      R: mengurangi nyeri dan spasme otot
2.      Disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan atau interupsi aliran darah dan edema berlebihan
Intervensi Keperawatan:
1)      Lepaskan perhiasan dari ekstermitas yang sakit
R: dapat membendung sirkulasi bila terjadi edema
2)      Selidiki tanda iskemia ekstermitas  tiba- tiba, seprti: penurunan suhu kulit dan peningktan nyeri
R: dislokasi fraktur sendi (khususnya lutut) dapat menyebabkan kerusakan sendi arteri yang berdekatan dengan akibat hilangnya aliran darah ke distal
3)      Awasi tanda vital, perhatikan adanya pucat atau sianosis umum, kulit dingi perubahan mental
R: ketidak adekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi jaringan
4)      Dorong pasien untuk secara rutin latihan jari  atau sendi distal yang cedera
R: meningkatkan sirkulasi dan menurunkan pengumpulan darah khususnyan pada ekstermitas bawah.
3.      Gangguan mobilitas fisik b/d nyeri, imobilitas tungkai
Tanda:
·         Ketidakmampuan untuk bergerak sesuai tujuan
·         Menolak untuk bergerak dan keterbatasan rentang gerak
·         Penurunan kekuatan atau kontrol otot
Tujuan:
·         Meningkatkan kekuatatan atau fungsi yang sakit dan  mengkompensasi bagian tubuh
·         Menunjukan teknik yang mampu melakukan aktifitas
·         Mempertahankan posisi fungsional
Intervensi Keperawatan:
1)      kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera/ pengobatan dan perhatikan presepsi pasien terhadap imobilisasi
R: untuk informasi atau intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan
2)      instruksi pasien untuk membantu dalam rentang gerak pasien / aktif pada ektermitas yang sakit dan yang tak sakit
R: meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot
3)      berikan tindakan reposisi
R: berguna dalam mempertahankan posisi fungsional ekstermita, tangan atau kaki  dan mencegah komplikasi
4)      berikan atau bantu dalam mobilitas dengan kursi roda atau tongkat sesegera mungkin. Intruksikan keamanan dalam menggunakan alat mobilitas
R: mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring (flebitis) dan meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ
5)      Bantu pasien perawatan diri dan kebersiahan
R: meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi  dan meningkatkan kesehatan diri langsung.
Adapun kemungkinan diagnosa keperawatan lain:
·         Resiko tinggi terhadap trauma b/d kehilangan integritas tulang
Tanda:
            Mempertahankan stabilitas posisi fraktur
Hasil:
Menunjukkan mekanisme tubuh yang meningkat stablitas pada sisi fraktur

·         Kerusakan jaringan b/d penurunan sensasi
Tanda:
            Keluhan gatal, kebas, tekanan pada area yang sakit
Gangguan permukaan: invasi strukur tubuh, destruksi lapisan kulit atau jaringan.

Askep Sepsis

ASKEP SEPSIS


A.    Pengertian

Sepsis merupakan respon sistemik terhadap bakteriemia. Pada saat bakteriemia menyebabkan perubahan dalam sirkulasi menimbulkan penurunan perfusi jaringan dan terjadi shock sepsis. Sekitar 40% pasien sepsis disebabkan oleh mikroorganisme gram-positive dan 60% disebabkan mikroorganisme gram-negative. Pada orang dewasa infeksi saluran kencing merupakan sumber utama terjadinya infeksi. Di rumah sakit kemungkinan sumber infeksi adalah luka dan kateter atau kateter intravena. Organisme yang paling sering menyebabkan sepsis adalah staphylococcus aureus dan pseudomonas sp.

B.    Etiologi dan Epidemiologi

Organisme tersering sebagai penyebab penyakit adalah Escherichia Coli dan streptokok grup B (dengan angka kesakitan sekitar 50 – 70 %), Stapylococcus aureus, enterokok, Klebsiella-Enterobacter sp., Pseudomonas aeruginosa, Proteus sp., Listeria monositogenes dan organisme yang anaerob.
Berikut adalah daftar sebagian yang singkat dari keduanya yaitu organisme dan istilah-istilah sistim organ (dan yang berhubungan dengan organ) yang terlihat di keduanya literatur awam dan medis:
•    MRSA sepsis: sepsis yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus yang resisten terhadap methicillin
•    VRE sepsis: sepsis yang disebabkan oleh jenis bakteri Enterococcus yang resisten terhadap vancomycin
•    urosepsis: sepsis yang berasal dari infeksi saluran kencing
•    wound sepsis: sepsis yang berasal dari infeksi luka
•    neonatal sepsis atau septicemia: sepsis yang terlihat pada bayi-bayi yang baru dilahirkan, biasanya pada empat minggu pertama setelah kelahiran
•    septic abortion: aborsi yang disebabkan oleh infeksi dengan sepsis pada ibu

C.    Tanda dan gejala

Pasien dengan sepsis dan shock sepsis merupakan penyakit akut. Pengkajian dan pengobatan sangat diperlukan. Pasien dapat meninggal karena sepsis. Gejala umum adalah:
a.    demam atau hypothermia
b.    berkeringat
c.    sakit kepala
d.    nyeri otot


Cari tahu sumber infeksi utama. Pertimbangkan sumber infeksi berikut:
a.    infeksi saluran kencing
b.    infeksi saluran pernapasan
c.    infeksi kulit
d.    meningitis
e.    endokarditis
f.    infeksi intra abdomen
g.    osteomyelitis
h.    penyakit inflamasi pelvis
i.    penyakit menular seksual

Pada pasien sepsis kemungkinan ditemukan:
a.    perubahan sirkulasi
b.    penurunan perfusi perifer
c.    tachycardia
d.    tachypnea
e.    pyresia atau temperature <36oC
f.    hypotensi




D.    Diagnosis

Pasien perlu memenuhi paling sedikit dua dari kriteria SIRS yang didaftar diatas dan mempunyai infeksi yang dicurigai atau terbukti. Diagnosis yang definitif tergantng pada pembiakn darah yang positif untuk agen infeksius dan paling sedikit dua dari kriteria SIRS. Bagaimanapun, dua subset dari empat kriteria tergantung pada analisa laboratorium; pemeriksaan-pemeriksaan sel darah putih dan PaCO2. Kriteriakriteria subset ini, seperti pembiakan-pembiakan darah, dilakukan di laboratorium-laboratorium klinik.

E.    Pengobatan

Bila dipikirkan diagnosis sepsis setelah pengambilan bahan untuk pembiakan selesai dilakukan, pembiakan dengan antibiotika harus segera dimulai. Pengobatan awal hendaknya tersendiri dari ampisilin dan gentamisin atau kanamisin secara intravena atau intramuskular.
Pengobatan suportif, termasuk penatalaksanaan keseimbangan cairan dan elektrolit, bantuan pernapasan, transfusi darah lengkap segar, transfusi leukosit, transfusi tukar, pengobatan terhadap DIC, dan tindakan-tindakan lain yang merupakan bantuang yang penting bagi pengobatan antibiotik.


F.    Pencegahan

Faktor-faktor risiko yang menjurus pada sepsis dapat dikurangi dengan banyak metode-metode. Mungkin cara yang paling penting untuk mengurangi kesempatan untuk sepsis adalah untuk pertama mencegah segala infeksi-infeksi. Vaksin-vaksin, kesehatan yang baik, mencuci tangan, dan menghndari sumber-sumber infeksi adalah metode-metode pencegahan yang baik sekali. Jika infeksi terjadi, perawatan segera dari segala infeksi sebelum ia mempunyai kesempatan untuk menyebar kedalam darah adalah mungkin untuk mencegah sepsis. Ini terutama penting pada pasien-pasien yang berisiko lebih besar untuk infeksi seperti mereka yang mempunyai sistim-sistim imun yang ditekan, mereka yang dengan kanker, orang-orang dengan diabetes, atau pasien-pasien kaum tua.
G. Temuan Pemeriksaan Diagnostik dan Laboratorium
a. Kultur darah dapat menunjukkan organisme penyebab.
b. Analisis kultur urine dan cairan sebrospinal (CSS) dengan lumbal fungsi dapat mendeteksi organisme.
c. DPL menunjukan peningkatan hitung sel darah putih (SDP) dengan peningkatan neutrofil immatur yang menyatakan adanya infeksi.
d. Laju endah darah, dan protein reaktif-c (CRP) akan meningkat menandakan adanya infalamasi.

FORMAT ASUHAN KEPERAWATAN SEPSIS

PENGKAJIAN

1.    Identitas Klien
Riwayat Penyakit
a)    Keluhan utama
b)    Riwayat penyakit sekarang

c)    Riwayat penyakit dahulu.

d)    Riwayat penyakit keluarga


Airway
a.    yakinkan kepatenan jalan napas
b.    berikan alat bantu napas jika perlu (guedel atau nasopharyngeal)
c.    jika terjadi penurunan fungsi pernapasan segera kontak ahli anestesi dan bawa segera mungkin ke ICU

Breathing
a.    kaji jumlah pernasan lebih dari 24 kali per menit merupakan gejala yang signifikan
b.    kaji saturasi oksigen
c.    periksa gas darah arteri untuk mengkaji status oksigenasi dan kemungkinan asidosis
d.    berikan 100% oksigen melalui non re-breath mask
e.    auskulasi dada, untuk mengetahui adanya infeksi di dada
f.        periksa foto thorak

Circulation
a.    kaji denyut jantung, >100 kali per menit merupakan tanda signifikan
b.    monitoring tekanan darah, tekanan darah <>
c.    periksa waktu pengisian kapiler
d.    pasang infuse dengan menggunakan canul yang besar
e.    berikan cairan koloid – gelofusin atau haemaccel
f.    pasang kateter
g.    lakukan pemeriksaan darah lengkap
h.    siapkan untuk pemeriksaan kultur
i.    catat temperature, kemungkinan pasien pyreksia atau temperature kurang dari 36oC
j.    siapkan pemeriksaan urin dan sputum
k.    berikan antibiotic spectrum luas sesuai kebijakan setempat.

Disability
Bingung merupakan salah satu tanda pertama pada pasien sepsis padahal sebelumnya tidak ada masalah (sehat dan baik).
a. kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU.


Exposure
Jika sumber infeksi tidak diketahui, cari adanya cidera, luka dan tempat suntikan dan tempat sumber infeksi lainnya.
Tanda ancaman terhadap kehidupan
Sepsis yang berat didefinisikan sebagai sepsis yang menyebabkan kegagalan fungsi organ. Jika sudah menyembabkan ancaman terhadap kehidupan maka pasien harus dibawa ke ICU, adapun indikasinya sebagai berikut:
a.    penurunan fungsi ginjal
b.    penurunan fungsi jantung
c.    hyposia
d.    asidosis
e.    gangguan pembekuan
f.    acute respiratory distress syndrome (ARDS) – tanda cardinal oedema pulmonal.

2. Diagnosa Keperawatan yang Muncul
a. Infeksi yang berhubungan dengan penularan infeksi pada bayi sebelum, selama dan sesudah kelahiran.
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan minum sedikit atau intoleran terhadap minuman.
c. Gangguan pola pernapasan yang berhubungan dengan apnea.
d. Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan penularan infeksi pada bayi oleh petugas.
e. Koping individu efektif yang berhubungan dengan kesalahan dan kecemasan-kecemasan infeksi pada bayi dan konsekuensi yang serius dari infeksi.

3. Rencana Asuhan Keperawatan

Diagnosa Keperawatan 1 : Infeksi yang berhubungan dengan penu;aran ifneksi pada bayi sebelum, selama dan sesudah kelahiran.
Tujuan 1 : Mengenali secara dini bayi yang mempunyai resiko menderita infeksi.
Kriteria evaluasi : penularan infeksi tidak terjadi.
Intervensi :
a. Kaji bayi yang memiliki resiko menderita infeksi meliputi :
- Kecil untuk masa kehamilan, besar untuk masa kehamilan, prematur.
- Nilai apgar dibawah normal
- Bayi mengalami tindakan operasi
- Epidemi infeksi dibangsal bayi dengan kuman E. coli Streptokokus
- Bayi yang megalami prosedur invasif
- Kaji riwayat ibu, status sosial ekonomi, flora vagina, ketuban pecah dini, dan infeksi yang diderita ibu.
b. Kaji adanya tanda infeksi meliputi suhu tubuh yang tidak stabil, apnea, ikterus, refleks mengisap kurang, minum sedikit, distensi abdomen, letargi atau iritablitas.
c. Kaji tanda infeksi yang berhubungan dengan sistem organ, apnea, takipena, sianosis, syok, hipotermia, hipertermia, letargi, hipotoni, hipertoni, ikterus, ubun-ubun cembung, muntah diare.
d. Kaji hasil pemeriksaan laboratorium
e. Dapatkan sampel untuk pemeriksaaan kultur.
Tujuan 2 : Mencegah dan meminimalkan infeksi dan pengaruhnya intercensi keperawatan.
a. Berikan suhu lingkungan yang netral
b. Berikan cairan dan nutrisi yang dibutuhkan melalui infus intravena sesuai berat badan, usia dan kondisi.
c. Pantau tanda vital secara berkelanjutan
d. Berikan antibiotik sesuai pesanan
e. Siapkan dan berikan cairan plasma segar intravena sesuai pesanan
f. Siapkan untuk transfusi tukar dengan packed sel darah merah atas indikasi sepsis.

Diagnosa Keperawatan 2 : Nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan minum sedikit atau intoleran terhadap minuman.
Tujuan : memelihara kebutuhan nutrisi bayi, berat badan bayi tidak tujuan, menunjukkan kenaikan berat badan.
Kriteria hasil : nutrisi dan cairan adekuat.
Intervensi keperawatan :
a. Kaji intoleran terhadap minuman
b. Hitung kebutuhan minum bayi
c. Ukur masukan dan keluaran
d. Timbang berat badan setiap hari
e. Catat perilaku makan dan aktivitas secara kurat
f. Pantau koordinasi refleks mengisap dan menelan
g. Ukur berat jenis urine
h. Berikan minuman yang adekuat dengan cara pemberian sesuai kondisi
i. Pantai distensi abdomen (residu lambang)

Diagnosa Keperawatan 3 : Gangguan pola pernafasan yang berhubungan dengan apnea.
Tujuan : mengatur dan membantu usaha bernpaas dan kecukupan oksigen.
Kriteria hasil : frekuensi pernapasan normal, tidak mengalami apneu.
Intervensi Keperawatan :
a. Kaji perubahan pernapasan meliputi takipnea, pernapasan cuping hidung, gunting,sianosis, ronki kasar, periode apnea yang lebih dari 10 detik.
b. Pantau denyut jantung secara elektronik untuk mengetahui takikardia atau bradikardia dan perubahan tekanan darah.
c. Sediakan oksigen lembap dan hangat dengan kadar T1O2 yang rendah untuk menjaga pengeluaran energi dan panas.
d. Sediakan alat bantu pernapasan atau ventilasi mekanik
e. Isap lendir atau bersihkan jalan napas secara hati-hati
f. Amati gas darah yang ada atua pantau tingkat analisis gas darah sesuai kebutuhan.
g. Atur perawatan bayi dan cegah penanganan yang berlebihan.

Diagnosa Keperawatan 4 : Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan penularan infeksi pada bayi oleh petugas.
Tujuan : menceghah terjadinya infeksi nasokomial
Kriteria hasil : cedera pada bayi tidak terjadi.
Intervensi keperawatan :
a. Lakukan tindakan pencegahan umum, taati aturan/kebijakan keberhasilan kamar bayi.
b. Isolasi bayi yang datang dari luar ruang perawatan sampai hasil kultur dinyatakan negatif.
c. Keluarkan bayi dari ruang perawatan atua ruang isolasi yang ibunya menderita infeksi dan beri tahu tentang penyakitnya.
d. Semua personel atau petugas perawatan didalam ruang atau saat merawat bayi tidak menderita demam, penyakit pernapasan atau gastrointestinal, luka terbuka dan penyakit menular lainnya.
e. Sterilkan semua peralatan yang dipakai, ganti selang dan air humidifier dengan yang steril setiap hari atau sesuai ketentuan rumah sakit.
f. Bersihkan semua tempat tidur bayi dan inkubator berserta peralatannya dengan larutan anti septik tiap minggu atau sesudah digunakan.
g. Bersihkan semua tempat tidur bayi dan inkubator beserta peralatannya dengan larutan antiseptik tiap minggu atau sesudah digunakan.
h. Laksanakan secara steril semua prosedur tindakan dalam melakukan perawatan.
i. Semua perawat atau petugas lain mencuci tangan sesuai ketentuan setiap sebelum dan sesudah merawat atau memegang bayi.
j. Ambil sampel untuk kultur dari peralatan bahan persedian dan banyak bahan lain yang terkontaminasi diruang perawatan.
k. Jelaskan orang tua dan keluarga, ketentuan yang harus ditaati saat mengunjungi bayi.

Diagnosa Keperawatan 5 : Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan kesalahan dan kecemasan, penularan infeksi pada bayi dan konsekwensi yang serius dari infeksi.
Tujuan : meminimalkan kesalahan orang tua dan memberi dukungan koping saat krisis.
Kriteria hasil : koping individu adekuat.
Intervensi keperawatan :
a. Kaji ekspresi verbal dan non verbal, perasaan dan gunakan mekanisme koping
b. Bantu orang tua untuk mengatakan konsepnya tentang penyakit bayi, penyebab infeksi, lama perawatan dan komplikasi yang mungkin terjadi.
c. Berikan informasi yang akurat tentang kondisi bayi, kemajuan yang dicapai, perawatan selanjutnya dan komplikasi yang dapat terjadi.
d. Berdasarkan perasaan orang tua saat berkunjung, beri kesempatan untuk merawat bayi.