Kamis, 23 Februari 2012

Askep Plasenta Previa

“Placenta Previa”
A.    Pengertian
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (FKUI, 2000).
Menurut Prawiroharjo (1992), plasenta previa adalah plasenta yang ada didepan jalan lahir (prae = di depan ; vias = jalan). Jadi yang dimaksud plasenta previa ialah plasenta yang implantasinya tidak normal, rendah sekali hingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum.
Menurut Cunningham (2006), plasenta previa merupakan implantasi plasenta di bagian bawah sehingga menutupi ostium uteri internum, serta menimbulkan perdarahan saat pembentukan segmen bawah rahim.
B.     Ciri-ciri Plasenta Previa
  1. Perdarahan tanpa nyeri
  2. Perdarahan berulang
  3. Warna perdarahan merah segar
  4. Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah
  5. Timbulnya perlahan-lahan
  6. Waktu terjadinya saat hamil
  7. Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi
  8. Denyut jantung janin ada
  9. Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina
  10. Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul
C.    Etiologi
Menurut Manuaba (2003), penyebab terjadinya plasenta previa diantaranya adalah mencakup :
  1. Perdarahan (hemorrhaging)
  2. Usia lebih dari 35 tahun
  3. Multiparitas
  4. Pengobatan infertilitas
  5. Multiple gestation
  6. Erythroblastosis
  7. Riwayat operasi/pembedahan uterus sebelumnya
  8. Keguguran berulang
  9. Status sosial ekonomi yang rendah
  10. Jarak antar kehamilan yang pendek
  11. Merokok
Menurut Hanafiah (2004) klasifikasi plasenta previa dapat dibedakan menjadi 4 derajat yaitu :
  1. Total bila menutup seluruh serviks
  2. Partial bila menutup sebagian serviks
  3. Lateral bila menutup 75% (bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta).
  4. Marginal bila menutup 30% (bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir).
D.    Faktor Predisposisi dan Presipitasi
Menurut Mochtar (1998), faktor predisposisi dan presipitasi yang dapat mengakibatkan terjadinya plasenta previa adalah :
  1. Melebarnya pertumbuhan plasenta :
    • Kehamilan kembar (gamelli).
    • Tumbuh kembang plasenta tipis.
  2. Kurang suburnya endometrium :
    • Malnutrisi ibu hamil.
    • Melebarnya plasenta karena gamelli.
    • Bekas seksio sesarea.
    • Sering dijumpai pada grandemultipara.
  3. Terlambat implantasi :
    • Endometrium fundus kurang subur.
    • Terlambatnya tumbuh kembang hasil konsepsi dalam bentuk blastula yang siap untuk nidasi.
E.     Patofisiologi
Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-kadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding uterus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan.
F.      Tanda dan Gejala
Menururt FKUI (2000), tanda dan gejala plasenta previa diantaranya adalah :
  1. Pendarahan tanpa sebab tanpa rasa nyeri dari biasanya dan berulang.
  2. Darah biasanya berwarna merah segar.
  3. Terjadi pada saat tidur atau saat melakukan aktivitas.
  4. Bagian terdepan janin tinggi (floating), sering dijumpai kelainan letak janin.
  5. Pendarahan pertama (first bleeding) biasanya tidak banyak dan tidak fatal, kecuali bila dilakukan periksa dalam sebelumnya. Tetapi perdarahan berikutnya (reccurent bleeding) biasanya lebih banyak.
G.    Komplikasi
Menurut Roeshadi (2004), kemungkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan dari adanya plasenta previa adalah sebagai berikut :
  1. Pada ibu dapat terjadi :
    • Perdarahan hingga syok akibat perdarahan
    • Anemia karena perdarahan
    • Plasentitis
    • Endometritis pasca persalinan
  2. Pada janin dapat terjadi :
    • Persalinan premature
    • Asfiksia berat
H.    Pemeriksaan Penunjang
1.      USG : biometri janin, indeks cairan amnion, kelainan congenital, letak dan derajat maturasi plasenta. Lokasi plasenta sangat penting karena hal ini berkaitan dengan teknik operasi yang akan dilakukan.
2.      Kardiotokografi (KTG) : dilakukan pada kehamilan > 28 minggu.
3.      Laboratorium : darah perifer lengkap. Bila akan dilakukan PDMO atau operasi, perlu diperiksa faktor waktu pembekuan darah, waktu perdarahan dan gula darah sewaktu. Pemeriksaan lainnya dilakukan atas indikasi medis
I.       Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
Menurut Wiknjosastro (2005), penatalaksanaan yang diberikan untuk penanganan plasenta previa tergantung dari jenis plasenta previanya yaitu :
  1. Kaji kondisi fisik klien
  2. Menganjurkan klien untuk tidak coitus
  3. Menganjurkan klien istirahat
  4. Mengobservasi perdarahan
  5. Memeriksa tanda vital
  6. Memeriksa kadar Hb
  7. Berikan cairan pengganti intravena RL
  8. Berikan betametason untuk pematangan paru bila perlu dan bila fetus masih premature
  9. Lanjutkan terapi ekspektatif bila KU baik, janin hidup dan umur kehamilan
Penatalaksanaan :
1.      Konservatif bila :
a.       Kehamilan kurang 37 minggu.
b.      Perdarahan tidak ada atau tidak banyak (Hb masih dalam batas normal).
c.       Tempat tinggal pasien dekat dengan rumah sakit (dapat menempuh perjalanan selama 15 menit).
2.      Penanganan aktif bila :
a.       Perdarahan banyak tanpa memandang usia kehamilan.
b.      Umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
c.       Anak mati
Perawatan konservatif berupa :
- Istirahat.
- Memberikan hematinik dan spasmolitik unntuk mengatasi anemia.
- Memberikan antibiotik bila ada indikasii.
- Pemeriksaan USG, Hb, dan hematokrit.
Bila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan konservatif maka lakukan mobilisasi bertahap. Pasien dipulangkan bila tetap tidak ada perdarahan. Bila timbul perdarahan segera bawa ke rumah sakit dan tidak boleh melakukan senggama.
Penanganan aktif berupa :
- Persalinan per vaginam.
- Persalinan per abdominal.
Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double set                    up) yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan
Plasenta previa marginalis
2. Plasenta previa letak rendah
      Plasenta lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala sudah masuk pintu atas panggul dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit perdarahan maka lakukan amniotomi yang diikuti dengan drips oksitosin pada partus per vaginam bila gagal drips (sesuai dengan protap terminasi kehamilan). Bila terjadi perdarahan banyak, lakukan seksio sesar.
Indikasi Melakukan Seksio sesar:

·         Plasenta previa totalis
·         Perdarahan banyak tanpa henti.
·         Presentase abnormal.
·         Panggul sempit.
·         Keadaan serviks tidak menguntungkan (belum matang).
·         Gawat janin
Pada keadaan dimana tidak memungkinkan dilakukan seksio sesar maka lakukan pemasangan cunam Willet atau versi Braxton Hicks.

Asuhan Keperawatan Teoritis
A.    Pengkajian
Data Subjektif :
  • Perdarahan per vaginam biasanya tidak nyeri
  • Perdarahan merah terang
  • Tidak disertai dengan kontraksi uterus dan cendrung terjadi dengan tiba-tiba sewaktu trisemester ke 3
  • Gejala kehamilan :
§  Aktivitas janin biasanya normal
§  Sejumlah pasien melaporkan adanya episode perdarahan sebelumnya sewaktu trimester pertama atau ke 2
Data Objektif
·         Pemeriksaan fisik
§  Pemeriksaan umum           : Apabila perdarahan tidak banyak ( 10-25% ), TTV biasanya normal dan pasien tampak sehat.
§  Pemeriksaan Abdomen     : Uterus halus dan tidak lunak, bunyi jantung janin biasanya normal, bagian presentasi tidak tercekap pada pintu atas panggul.
§  Pemeriksaan pelvis            : Tujuannya untuk mengevaluasi kuantitas perdarahan eksterna dan kemungkinan perdarahan traktus urinarius atau rektum.
§  Pemeriksaan pervaginam atau rektal dapat merangsang perdarahan hebat. Apabila perdarahannya minimal dan tampaknya bukan plasenta previa, pemeriksaan yang hati-hati dengan spekulum dapat menyingkap kemungkinan perdarahan vaginal atau serviks. Apabila di curigai perdarahan bersumber dari janin, darah harus diperiksa terhadap hemoglobin janin.
·         Pemeriksaan diagnostic.
HDL ; dapat menunjukkan peningkatan sel darah putih(SDP), penurunan
Hb dan Ht.
USG ; Menetukan letak plasenta.
B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Resiko kekurangan cairan sehubungan dengan adanya perdarahan.
2.      Resiko terjadi distress janin sehubungan dengan kelainan letak placenta.
3.      Potensial terjadi shock hipovolemik sehubungan dengan adanya perdarahan.
4.      Ganguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene sehubungan dengan aktivitas yang terbatas.
5.      Gangguan  psikologis  cemas  sehubungan  dengan  kurangnya  pengetahuan tentang  kehamilan  yang bermasalah.
C.     Intervensi
Dx 1: Resiko kekurangan cairan sehubungan dengan adanya perdarahan.
a.       Kaji tentang banyaknya pengeluaran caiaran (perdarahan)
b.      Observasi tanda-tanda vital.
c.       Observasi tanda-tanda kekurangan cairan dan monitor perdarahan.
d.      Pantau kadar elektrolit darah.
e.       Periksa golongan darah untuk antisipasi transfusi.
f.       Jelaskan pada klien untuk mempertahankan cairan yang masuk dengan banyak minum.
g.      Kolaborasi dengan dokter sehubungan dengan letak placenta.
Dx 2: Resiko terjadi distress janin sehubungan dengan kelainan letak placenta.
a.       Observasi tanda-tanda vital.
b.      Monitor perdarahan dan status janin
c.       Pertahankan hidrasi.
d.      Pertahankan tirah baring.
e.       Persiapkan untuk section caesaria .
Dx 3: Potensial terjadi shock hipovolemik sehubungan dengan adanya perdarahan.
a.       Observasi tanda-tanda terjadinya shock hipolemik.
b.      Kaji tentang banyaknya pengeluaran cairan (perdarahan).
c.       Observasi tanda-tanda vital.
d.      Observasi tanda-tanda kekurangan cairan dan monitor perdarahan.
e.       Pantau kadar elektrolit darah.
f.       Periksa golongan darah untuk antisipasi transfusi.
g.      Jelaskan pada klien untuk mempertahankan cairan yang masuk dengan banyak minum.
Dx 4: Ganguan pemenuhan  kebutuhan personal hygiene sehubungan dengan aktivitas yang terbatas.
a.       Berikan penjelasan tentang pentingnya personal hygiene
b.      Berikan motivasi untuk tetap menjaga personal hygiene tanpa melakukan aktivitas yang berlebihan
c.       Beri sarana penunjang atau mandikan klien bila klien masih harus bedrest
Dx 5: Gangguan      psikologis cemas      sehubungan dengan      kurangnya  pengetahuan tentang kehamilan yang bermasalah..
a.       Beri dukungan dan pendidikan untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan pemahaman dan  kerja  sama  dengan  tetap  memberikan  informasi  tentang  status  janin,  mendengar  dengan penuh perhatian, mempertahankan kontak mata dan berkomunikasi dengan tenang, hangat dan empati yang tepat.
b.      Pertahankan  hubungan  saling  percaya  dengan  komunikasi  terbuka.  Hubungan rasa  saling percaya   terjalin   antara   perawat   dan   klien   akan   membuat  klien   mudah   mengungkapkan perasaannya dan mau bekerja sama.
c.       Jelaskan  tentang  proses  perawatan  dan  prognosa  penyakit  secara  bertahap. Dengan  mengerti tentang proses perawatan dan prognosa penyakit akan memberikan rasa tenang.
d.      Identifikasi koping yang konstruksi dan kuatkan. Dengan identifikasi dan alternatif koping akan membantu klien dalam menyelesaikan masalahnya.
e.       Lakukan kunjungan secara teratur untuk memberikan support system. Dengan support system akan membuat klien merasa optimis tentang kesembuhannya.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Arif Mansjoer, 2001, Kapita Selekta Kedokteran , edisi ketiga . Media Aesculapius FKUI . Jakarta
2.      Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse, 2001, Rencana Perawatan Maternal/Bayi, edisi kedua. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
3.      Murah Manoe dkk, 1999, Pedoman Diagnosis Dan Terapi Obstetri Dan Ginekologi. Bagian /SMF obstetri dan ginekologi FK Unhas . Ujung Pandang.
4.      Sandra M. Nettina, 2001, Pedoman Praktik Keperawatan. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
5.      Sarwono, 1997, Ilmu Kebidanan. Yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar